Powered By Blogger

Senin, 29 Juni 2015

Kota Kediri / Kota Tahu

ASAL USUL KEDIRI

Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "KEDI" yang artinya "MANDUL" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan".

Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, 'KEDI" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon Wayang, Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama "KEDI WRAKANTOLO". Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, "KEDI" berarti Suci atau Wadad.



Di samping itu kata Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg, Angdhiri,menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan).
Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka, yang diantaranya berbunyi :
"Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban",artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban. Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti : Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceker, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, "Tanah Perdikan". Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri. Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194.Pada prasasti itu juga menyebutkan nama, Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur."Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo", sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri").

Menurut bapak MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari jadi Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimunculkan pada ketiga prasasti. AlasannyaPrasasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi. Dilihat dari ketiga tanggal tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M. Tatkala Bagawanta Bhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing.

Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang.Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi "Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Kediri.

Budaya Kota Kediri
  • Tari Jaranan/Kuda Lumping




Seni Tari Jaranan, merupakan salah satu tarian tradisional khas dan asli daerah Kediri. Selain sebagai hiburan, Tari Jaranan tersebut juga dikenal sebagai alat pemersatu masyarakat di Kediri. Meski berupa tarian, Jaranan memiliki ciri khas tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama yang mengiringinya. Namun, kini kesenian itu mulai terlupakan oleh masyarakat, entah beberapa tahun kedepan kesenian Tari Jaranan tersebut masih dapat kita saksikan atau hanya menjadi cerita anak-cucu kita kelak. Sungguh sangat disayangkan jika kesenian Jaranan mulai pudar, padahal ini bisa menjadi dan merupakan aset pariwisata daerah Kediri . Semoga Tarian jaranan bisa terus dibudayakan 

 Makanan Khas Kediri
  • Nasi Tumpang
sambal tumpang Sambal Tumpang Kediri


Setiap orang kediri pasti tahu sambal tumpang, makanan yang membuat Orang kediri di perantauan kangen setengah mati ini di daerah lain kadang di sebut nasi tumpang Kediri. Makanan khas kediri ini berbahan dasar tempe yang mengalami fermentasi lebih lama dari pada tempe yang biasa di konsumsi, kadang biar gampang menyebutnya sambel tumpang terbuat dari tempe “busuk”. Tapi, jangan khawatir bukan busuk expired, tetapi berfermentasi lebih lama.
Tempe untuk bahan sambal tumpang ini bukan sembarangan, Konon Tempe untuk sambal tumpang kalau bukan tempe kediri tidak bisa. Saya pernah ke Malang yang notabene dekat dengan kediri, tempe malang tidak bisa di buat sambal tumpang. Kurang tahu kenapa. mungkin raginya beda.
Bahkan di Kediri pun tidak semua tempenya enak buat sambal tumpang, seperti di Desa saya tempenya bisa di buat sambal tumpang, tetapi d desa sebelah tidak bisa kalaupun di paksakan rasanya tidak bisa sesedap biasanya.Sambal tumpang disajikan tanpa banyak variasi yaitu: nasi, sayuran(daun pepaya, daun kenikir, nangka muda, pepaya muda, dsbnya), serta lauk rempeyek dan krupuk nasi(puli). Nasi tumpang ini ada 2 jenis yaitu tumpang biasa yang menggunakan tempe “busuk” biasanya kuahnya tidak terlalu kental dan ada bulir tempenya, aroma sedapnya sudah tercium dari jarak beberapa meter.  Jenis kedua adalah sambal tumpang yang kental, biasanya ditambahkan tepung untuk pengentalnya dan menggunakan tempe biasa, aromanya nyaris tidak ada umumnya jenis sambal tumpang ini ada di Kediri kota. Terkadang ada lauk tambahan seperti tempe, tahu, telur puyuh, ayam, sate usus dsbnya.
Penjual nasi tumpang dapat di jumpai hampir di setiap desa di kediri. Umumnya jam buka adalah pagi sekali – subuh – atau malam. Biasanya penjual nasi tumpang juga menyediakan sambal pecel, jadi nanti ada nasi campur yaitu tumpang campur pecel. Saya paling suka tumpang campur kalau sambal tumpangnya jenis kedua yang memakai tempe “waras” atau tempe biasa. sumber;http://wongkediri.net/kuliner/sambal-tumpang-kediri.htm
Wisata Kota Kediri
  • Goa Maria Lourdes
 Gua Maria Lourdes Pohsarang, adalah salah satu tempat ziarah agama Katolikyang terletak di kompleks Gereja Pohsarang di desa Pohsarang, kecamatan Semen, Kediri, sekitar 10 km arah barat daya kota Kediri. Pada kompleks gereja yang lama terdapat miniatur Gua Maria Lourdes yang dikemudian hari oleh karena terlalu kecil bentuknya maka pada tanggal 11 Oktober 1998, dimulailah pembangunan gua Lourdes yang merupakan tiruan atau replika Gua Maria Lourdes yang ada di Perancis. Dinamakan Gua Maria Lourdes sebab dalam gereja yang lama terdapat tiruan Gua Lourdes di Prancis, dalam bentuk yang kecil. Di seputar patung yang kecil dalam gua pertama tertulis tulisan di atas kuningan dengan menggunakan bahasa Jawa ejaan Belanda : Iboe Maria ingkang pinoerba tanpa dosa asal, moegi mangestonana kawoela ingkang ngoengsi ing Panjenenengan Dalem. (Bunda Maria yang terkandung tanpa noda dosa asal, doakanlah aku yang datang berlindung kepadaMu). Gua kecil yang berada di sebelah kanan Gereja ini merupakan sebuah gua yang banyak didatangi oleh bukan hanya umat Katolik untuk berdoa rosario atau novena, melainkan juga oleh umat lain yang bukan Katolik untuk melakukan meditasi dan memohon ujub kepada Tuhan yang Mahapemurah.
Sementara patung Maria yang terdapat di Gua Maria Lourdes Pohsarang (di luar kompleks Gereja lama) merupakan replika atau tiruan dari patung Maria Lourdes, yang terbuat dari semen kemudian dicat berwarna bagian luarnya. Patung itu lebih tinggi dari contoh aslinya yang hanya 1,75 meter, sedangkan patung Maria yang kini tingginya 3,5 meter, bahkan kalau dihitung dari alas kakinya 4 meter.Patung ini dibuat lebih besar dari contohnya sebab disesuaikan dengan besarnya gua yang tingginya mencapai hampir 18 meter
Sumber;https://id.wikipedia.org/wiki/Gua_Maria_Pohsarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar